Indahnya Alam Indonesia

Kelestarian alam Indonesia adalah tanggung jawab kita bersama..

Mata yang selalu melihat

Apapun yang kita lakukan di dunia ini pasti ada yang selalu memantau kita dimanapun kita berada

Kartun Hewan Purba

Binatang itu sudah punah karena ulah manusia

Rumah Klasik

rumah idaman yang indah dan ramah lingkungan

Pantai Yang Indah

salah satu tujuan refresing yang menyenangkan adalah ke PANTAI

Tampilkan postingan dengan label referensi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label referensi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Juni 2012

Belajar Pendidikan Karakter Dari Sepakbola

Pendidikan karakter itu bukanlah sesuatu yang muluk-muluk atau sulit. Pendidikan karakter sebenarnya sudah ada dimana-mana. Sudah ada dikeluarga, dilingkungan sosial, sekolah, tempat hiburan dan lainnya. Tapi kali ini kita akan belajar sesuatu inti yang penting tentang pendidikan karakter dari sepak bola.
Ya, kenapa sepak bola karena kondisi atau contoh ini akan sangat mudah di analogikan (disamakan) dengan kondisi dan bagaimana mendidik karakter di dalam sekolah dan rumah. Pada dasarnya pendidikan karakter adalah memberikan aturan main dalam kehidupan dan lingkungan sosial disertai dengan konsekuensi yang berlaku didalamnya. Lalu hubungan dengan sepak bola? Mudah, dalam sepak bola sudah berlaku aturan yang sangat baku dan jelas. Ada aturan main dan konsekuensi. Jika melanggar ada kartu kuning (peringatan), kartu merah (keluar dari permainan), free kick, penalty, corner kick, bahkan denda uang bagi pemain dan team. Bahkan yang lebih “sadis” lagi jika team tersebut harus turun kasta ke liga yang lebih rendah lagi.
Sebagai pecinta sepak bola, saya sangat senang dan berulang kali menggunakan contoh ini kepada guru dan orang tua yang ingin tahu tentang bagaimana mendidik karakter anak dengan menggunakan contoh ini. Seorang anak perlu mengembangkan pemahaman yang benar tentang bagaimana dunia ini bekerja, mempelajari “aturan main” segala aspek yang ada di dunia ini dan “hidup” didunia ini. Nah, masalahnya anak pada saat lahir dia tidak memiliki “konsep sosial” didalam kepalanya, oleh karena itu anak perlu tahu bagaimana aturan – aturan yang ada didalam dunia ini. Inilah Pendidikan Karakter, mudah kan?
Supaya tidak kena kartu kuning, jangan melanggar. Jika melanggar lagi ya kartu merah. Sehingga banyak dari pemain sepak bola jika kesal terhadap team lawan selalu berusaha menjaga sikap dengan berusaha menghormati wasit dan tetap mengeluarkan uneg-uneg nya. Ya inilah dunia manusia, terkadang ada yang sesuai dan tidak tetapi diperlukan aturan untuk membuat semuanya teratur.
Dalam permainan sepak bola pemain inti dalam sebuah pertandingan adalah wasit. Banyangkan jika bermain tidak ada wasit maka kemungkinan besar bukan pertandingan sepak bola lagi yang kita lihat. Tetapi UFC (Ultimate Fighting Championship) di lapangan sepak bola, alias tarung bebas dilapangan sepak bola. Sama dalam dunia pendidikan di sekolah perlau ada figure yang berperan seperti wasit dalam pertandingan sepak bola yang menjadi “penjaga” aturan di sekolah. Dan seringkali hal inilah yang menjadi kelemahan, wasit di sekolahnya tidak berfungsi dengan baik. Sama halnya dirumah, orang tua kurang dapat menjadi wasit dengan baik. Sehingga pendidikan karakter kurang dapat berjalan dengan maksimal.
Perlu kita ketahui semua, pendidikan karakter bukan semata-mata memberikan pengetahuan semata tetapi menetapkan aturan dan konsekuensi dilingkungan sekolah dan dirumah. Dalam peraturan sekolah misal: anak tidak bawa buku pelajaran maka konsekuensinya mendapatkan tugas tambahan. Ini harus jelas dan konsisten, serta dikomunikasikan kepada semua pihak termasuk orang tua.
Jika kita melanggar aturan lalu lintas maka jelas kita kena tilang, dan kita bisa pilih mau slip merah atau biru. Merah bayar di tempat, jika biru kita bayar di tempat yang ditunjuk untuk mengurusi tilang (Bank BRI). Dan ini konsisten dan semua masyarakat Indonesia yang menggunakan kendaran bermotor sudah tahu. Inilah dasar dari pendidikan karakter. Ada aturan yang jelas dan konsekuensi.
Berikutnya, memang sebaiknya seorang yang bertanggung jawab dibidang pendidikan karakter adalah seorang yang memiliki minat, dalam dunia “kemanusian” tidak mesti psikolog. Kenapa sebab ini berkaitan dengan menata aturan dan konsekuensi bagi anak didik. Tentunya aturan ini harus ditata berdasarkan jenjang dan usia dan skala pelanggaran. Misal: hukuman anak yang mencuri atau merusak dengan sengaja property sekolah tentunya akan berbeda dengan anak yang lupa membawa alat tulis, atau tidak membawa catatan.
Nah, yang terpenting bagi kita semua bahwa pendidikan karakter bukanlah sesuatu yang rumit. Ini sangat mudah dan ada banyak sekali contohnya disekitar kita, tinggal kita mau apa tidak. Perlu upaya untuk menerapkan ini, kita perlu mengetahui dan belajar tentang seluk beluk manusia dan bagaimana mengatasinya. Sebab manusia saat dilahirkan tidak disertai manual book-nya, lain seperti Black Berry yang kita beli dan sudah disertakan manual book-nya dan ada petunjuk bagaimana menggunakannya.

Salam
Timothy Wibowo

Cara Jitu Menumbuhkan Semangat Belajar Anak

Nah, ini adalah tema yang sering ditunggu-tunggu oleh orangtua dan juga sering banyak dikeluhkan orangtua. “Kenapa anak saya ngga senang belajar, maen aja seharian”, keluh seorang Ibu yang hadir diseminar saya. Para pembaca, percayakah Anda bahwa kehidupan sejati kita manusia adalah seorang pembelajar? Tapi kita sering memberikan perlakuan yang tidak menyenangkan saat anak belajar (secara tidak sadar) bahkan dulu kita pun mungkin diberikan stimulasi yang salah sehingga belajar itu tidak menyenangkan.
Misalnya, saat anak kita bayi dan berumur 1 tahun. Dia ingin memasukan semua barang yang dapat ia pegang ke dalam mulutnya, benar? Nah yang kebanyakan orang lakukan saat itu adalah berkata “eh… itu kotor, ngga boleh” sambil menarik barang tersebut. Sebenarnya ini adalah perilaku dasar pada saat seorang anak belajar. Kemudian saat dia mulai bisa berjalan, mulai ingin tahu lebih banyak tentang lingkungan sekitar, semakin banyak larangan yang dikeluarkan oleh orangtua ataupun pengasuh. Mungkin karena lelah menjaga anak seharian, sehingga banyak larangan yang dikeluarkan. Padahal ini adalah keinginan mereka untuk tahu (belajar) lebih banyak, mengisi database di otaknya yang masih kosong dan perlu diisi.
Saat mulai bisa berbicara, bertanya ini dan itu. “Ini apa? Kenapa?” Jawaban yang diterima “lha tadi sudah tanya, tanya lagi dasar cerewet” mungkin saat itu pengasuh dan orangtua sedang lelah juga saat menjaganya sehingga malas dan capek untuk memberikan penjelasan dan ini adalah proses belajar seorang anak. Ada barang baru dirumah dan anak ingin memegangnya atau mengetahui lebih dekat, maka kita orangtua dan pengasuhnya menjauhkan barang tersebut darinya, dengan dalih nanti rusak karena barang mahal.
Dari sepenggal contoh diatas dimana ini adalah pengalaman nyata dari saya dan beberapa klien, siapakah yang membuat anak menjadi malas belajar?

Berikutnya ada seorang anak berusia 8 tahun, sebut saja Aji. Orangtuanya sangat mengeluhkan, bahwa anaknya tidak suka belajar dan sudah mendapat peringatan dari gurunya jika tidak ada perubahan sikap maka kemungkinan besar Aji tidak naik kelas. Saat bertemu, saya yakin Aji adalah anak yang luar biasa. Sesaat saya bertanya tentang hobi dan kesukaannya saat bermain, dengan cepat saya mengetahui anak ini luar biasa. Sebab setelah saya Tanya tentang hobinya ternyata sepak bola, dan tim kegemarannya adalah Arsenal (Liga Inggris). Dan Aji, hafal seluruh pemain inti dan cadangan Arsenal, berikut pelatih dan asistennya serta nomor punggung pemain, tanggal ulang tahun pemain serta daftar pencetak goal dan assist (pemberi umpan) dan point klasemen liga dan urutannya. Gila, luar biasa! (dalam hati saya) Ngga ada yang salah sama hardware (otaknya), tapi masalahnya sama Software.
Satu orang anak yang sama, otaknya kalau dibuat belajar pelajaran disekolah tidak berfungsi (berhitung, menghafal) tetapi hafal seluruh pemain Arsenal. Apa anak ini bodoh? Tentunya Anda sepaham dengan saya, jawabanya adalah tidak. Anak ini pandai luar biasa. Hanya saja salah perlakuan sehingga ia malas dan tidak suka belajar.
Lalu apa yang saya lakukan untuk mengubah agar software menjadi baik dan membuat anak ini agar mudah belajar?  Yang saya perbaiki orangtuanya dahulu, sebab untuk anak seusia Aji, jika terdapat masalah dalam hidupnya berarti orangtua yang akan membantu untuk mengatasi masalah anak tersebut. Saya mengajarkan bagaimana berkomunikasi dengan anak dan sifat dari pikiran anak, serta pentingnya menomor satukan cinta dalam mendidik anak, yang semuanya akan sangat panjang jika saya jelaskan disini.

Berikutnya adalah tips bagaimana agar, anak kita menjadi rajin dan mudah sekali belajar dan sekolah.
1. Saat pulang sekolah tanyakan “hai sayang, apa yang menyenangkan hari ini disekolah?” Otomatis otak anak akan mencari hal-hal yang menyenangkan disekolah dan ini secara tidak langsung akan memberitahu sang anak bahwa sekolah adalah tempat yang menyenangkan.
2. Saat anak tidur (Hypnosleep), katakan “makin hari, belajar makin menyenangkan”, “sama halnya dengan bermain, belajar juga sangat menyenangkan”, “mudah sekali bagimu untuk belajar (berhitung, menghafal dll)”.
3. Jelaskan manfaat dari pelajaran yang sedang dipelajari (sesuai dengan minat anak tersebut) misal: dengan mempelajari perkalian, maka saat liburan naik kelas nanti nanti kamu bisa menghitung berapa harga barang yang akan kamu beli di Singapore dan kamu bisa membandingkannya dengan harga di Indonesia. Jika kamu menguasai conversation dalam bahasa inggris maka kamu akan sangat mudah berkomunikasi dengan pelatih sepak bolamu yang dari Thailand.
4. Mintalah guru les pelajarannya (jika ada), sering-sering mengatakan bahwa anak kita adalah anak yang hebat dan luar biasa. Pujian yang tulus dan memompa semangatnya jauh lebih penting dari pada mengajarkan tehnik-tehnik berhitung dan menghafal  yang cepat. Mintalah bantuan orang-orang sekitar termasuk guru untuk meningkatkan harga diri anak kita.
5. Jika anak kita masih kecil dan masih suka dibacakan dongeng, bacakan dongeng dengan posisi memangku dia (dengan posisi yang nyaman, serta memudahkan kita orangtua untuk memberikan ciuman kasih sayang atau pelukan sayang) tujuannya agar anak mengkaitkan membaca buku dengan rasa cinta dari orangtua dan buku adalah hal yang sangat menyenangkan.
6. Gunakan surat rahasia dari orangtua kepada anak, kita bisa berkata “nak, Ibu telah meletakan surat rahasia buat kamu. Cuma kamu dan ibu yang tahu isinya. Ibu letakan dibawah bantal tidurmu, bacalah setelah makan ya”. Isinya bisa berupa kata-kata yang menyemangati anak dalam kegiatan belajar dan sekolahnya.

Salam
Timothy Wibowo

Masih Adakah Ruang Untuk Anak Jalanan

Hampir saja lupa kalau 23 Juli telah ditetapkan sebagai Hari Anak Nasional (HAN). Momentum seperti ini seharusnya bisa dijadikan sebagai bahan refleksi terhadap silang-sengkarutnya dunia anak yang terkebiri dan termarginalkan. Tak jarang anak-anak dari keluarga tak mampu sering “dipaksa” untuk secepatnya menjadi dewasa dengan beban tanggung jawab ekonomi keluarga secara berlebihan sehingga mereka tak sempat menikmati masa kanak-kanak yang ceria dan menyenangkan. Sudut-sudut kota pun sarat dengan keliaran anak-anak jalanan. Ironisnya, tak sedikit aparat yang menilai kehadiran mereka sebagai sampah masyarakat yang mesti dikarantina tanpa ada kemauan politik untuk membebaskan mereka dari cengkeraman kemiskinan dan ketidakadilan.
Anak jalanan, agaknya masih menjadi salah satu problem klasik negara-negara berkembang, termasuk di negara kita. Kehadiran mereka di sudut-sudut kota yang pengap dan kumuh bisa jadi sangat erat kaitannya dengan jeratan kemiskinan yang menelikung orang tuanya. Masih jutaan keluarga di negeri ini yang hidup di bawah standar kelayakan. Untuk menyambung hidup, mereka dengan sengaja mempekerjakan anak-anak untuk berkompetisi di tengah pertarungan masyarakat urban yang terkesan liar dan kejam. Kekerasan demi kekerasan seperti mata rantai yang menempa sekaligus menggilas anak-anak miskin hingga akhirnya mereka tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang terbelah. Tentu saja, kita tidak bisa bersikap apriori dengan mengatakan, “Salahnya sendiri, kenapa miskin?” Hmmm … kalau saja mereka punya pilihan untuk dilahirkan, sudah pasti tak ada seorang pun anak manusia yang ingin lahir dan besar di tengah-tengah deraan kemiskinan orang tuanya.
Dari sisi latar belakang kehidupan keluarga yang sangat tidak nyaman untuk tumbuh dan berkembang secara wajar, sesungguhnya tak ada tempat untuk menyia-nyiakan anak-anak miskin yang terlunta-lunta hidup di jalanan. Kehadiran mereka justru perlu diberdayakan dengan sentuhan lembut penuh kemanusiawian. Namun, berkembangnya sikap latah dan kemaruk ingin menjadi kaum borjuis dan bergaya hidup feodal secara instan agaknya telah membakar dan menghanguskan nilai-nilai kemanusiawian itu. Alih-alih menyantuni, gaya hidup borjuasi dan feodalistik itu, disadari atau tidak, justru telah memosisikan anak-anak jalanan makin kehilangan kesejatian dirinya. Kata-kata kasar dan perlakuan tak senonoh sudah menjadi hiasan hidup dalam keseharian anak-anak jalanan. Orang-orang kaya yang seharusnya bisa memberdayakan dan menggerakkan semangat hidup mereka justru makin tenggelam dalam sikap hipokrit, pongah, dan kehilangan kepekaan terhadap nasib sesama.
Kondisi itu diperparah dengan sikap negara yang belum sepenuhnya mampu memberikan perlindungan memadai buat mereka. Melalui tangan-tangan aparatnya, anak-anak jalanan justru digaruk dan dihinakan di atas mobil bak terbuka; diarak dan dipertontonkan kepada publik. Sungguh, sebuah perlakuan purba yang jauh dari nilai-nilai kesantunan masyarakat beradab.
Kini, ketika momentum HAN itu tiba, tak jugakah kita tergerak untuk menjadikan anak-anak jalanan sebagai generasi masa depan yang punya hak untuk hidup secara layak di bumi yang konon “gemah ripah loh jinawi” ini? Sudah tak ada ruangkah bagi mereka untuk bersemayam di dalam rongga hati kita hingga akhirnya mereka benar-benar harus kehilangan masa depan? ***

Masa Remaja Rentan Alami Gangguan Kejiwaan

Masa Remaja Rentan Alami Gangguan Kejiwaan

Rabu, 25 April 2012 18:22 wib
Gustia Martha Putri - Okezone
detail berita
Remaja stres (Foto: Corbis)
GEJALA gangguan kejiwaan bipolar muncul, umumnya di usia 15 hingga 24 tahun. Sebanyak 30 persen remaja yang depresi berujung menjadi bipolar.

"Depresi pada masa remaja harus hati-hati karena mengarah ke bipolar. Kita semua pernah mengalami sedih, kecewa, putus dari pacar, dan mengalami episode depresi. Itu normal wajar, karena nantinya akan kembali pada keadaan awal. Tapi kalau itu terjadi pada remaja, harus lebih hati-hati karena sekitar 30 persen bisa menjadi bipolar. Biasanya yang rentan adalah memiliki faktor genetik, dalam riwayat keluarganya ada yang mengalami gangguan mood," tutur Dr. AA Ayu Agung Kusumawardhani, SpKJ (K), Kepala Departemen Psikiatri RSCM dalam seminar media "Gangguan Bipolar: Dapatkah Dikendalikan?" di Ruang Dua Mutiara 1, Hotel JW Marriot Jakarta, Rabu (25/3/2012).

Prevalensi gangguan bipolar sendiri selama kehidupan cukup tinggi dengan rasio laki-laki dan perempuan sama. Rata-rata usia awitan (awal mula muncul gangguan) adalah 15 hingga 24 tahun.

"Penyebab terjadinya gangguan bipolar bersifat multifaktor yang mencakup faktor genetik, biologi otak, serta peristiwa-peristiwa kehidupan dan keadaan lingkungan yang menimbulkan stres atau disebut stressor psikososial. Faktor genetik menyebabkan seseorang rentan dan bila yang bersangkutan mengalami stres psikososial yang tidak bisa ditanggulangi dan atasi, maka terjadilah gangguan bipolar," jelas Prof. Dr. dr. Tuti Wahmurti A. Sapiie, SpKJ(K), Perwakilan Majelis Kehormatan Profesi Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (PDSKJI) dalam acara yang sama.

Bagi keluarga perlu dukungan secara moril dan menerapkan budaya pasrah.

“Perlu ada edukasi bagi keluarga agar terus memberikan dukungan. Keluarga juga sebagai pemberi edukasi dan dorongan moril tentang bagaimana menjalani hidup. Budaya pasrah itu juga baik adanya. Yakni menerima kenyataan bahwa kita memiliki keterbatasan. Remaja harus selalu dibekali bahwa hidup harus memiliki kearifan,” ucap Prof. Tuti.

Bila sudah ada tanda-tanda gangguan bipolar, maka harus segera mencari bantuan ahli yang tepat. Untuk menyeimbangkan kembali zat-zat kimia alami otak, diperlukan obat yang akan membantu otak agar semua sistemnya bekerja harmonis kembali dan secara bertahap tercapai keseimbangan di antara zat-zat kimia alami otak. Obat ini disebut mood stabilizer. Dengan kemajuan teknologi kedokteran, saat ini telah ditemukan beberapa jenis mood stabilizer yang bisa menjadi pilihan sesuai dengan keunikan penderita.

Hak Pendidikan Anak Jalanan Terlupakan

Oleh : Nahot Sihaloho. Pengamen dan pengemis anak bukan pemandangan baru di kota-kota besar. Ada yang merasa kasihan dan prihatin, tak sedikit juga yang sinis dan tak peduli. Anak jalanan dianggap sebagai sampah yang berjalan di perempatan-perempatan kota karena keberadaannya mengganggu pemandangan. Bahkan ada tindakan represif yang masih dilakukan pihak berwajib, menangkap dan membawa secara paksa ke dinas sosial setempat. Banyak juga yang mendapat pelecehan seksual di jalanan. Anak jalanan seakan menjadi buronan melebihi para koruptor yang harus diseret di tengah-tengah keramaian kota. Padahal sebenarnya mereka hanya membutuhkan pendidikan berkelanjutan yang gratis dan aman dari segala bentuk kekerasan.
Problem paradigma berpikir karena cemoohan sebagai anak jalanan yang kemudian mendarah daging dalam benak tiap anak menjadi penyebab mereka tak ingin lagi bersekolah. Mereka tumbuh dan berkembang dengan latar kehidupan jalanan dan akrab dengan kemiskinan, penganiayaan, dan hilangnya kasih sayang, sehingga memberatkan jiwa dan membuatnya berperilaku negatif. Kasus-kasus kekerasan yang dialami oleh anak jalanan hingga terungkap ke publik hanyalah sebuah fenomena sekilas dari kasus-kasus kekerasan yang sebenarnya sering terjadi di dalam kehidupan anak-anak jalanan. Oleh karena itu, tidaklah terlalu berlebihan bila dikatakan bahwa anak jalanan senantiasa berada dalam situasi yang mengancam perkembangan fisik, mental dan sosial bahkan nyawa mereka.

Pandangan dominan masyarakat masih memvonis anak jalanan sebagai "anak liar", "kotor" "biang keributan", dan "pelaku kriminal". Adanya stigmatisasi ini tentu saja akan melahirkan tindakan-tindakan yang penuh prasangka dan cenderung akan mengesahkan jalan kekerasan di dalam menghadapi anak jalanan. Seandainya-pun terjadi berbagai bentuk kekerasan yang keji dan tidak manusiawi atau sampai menghilangkan nyawa, peristiwa tersebut belum tentu menjadi kegelisahan dan menggelitik hati nurani publik. Atau bisa jadi ada pihak yang justru mensyukuri dan menilai bahwa peristiwa tersebut memang layak diterima oleh anak-anak jalanan.

Hidup menjadi anak jalanan bukanlah merupakan harapan dan cita-cita seorang anak. Tidak ada seorang anakpun yang  dilahirkan bercita-cita menjadi anak jalanan. Anak merupakan bagian dari komunitas seluruh manusia di muka bumi. Tanpa terkecuali anak jalanan. Mereka bukan binatang, sampah, atau kotoran yang menjijikkan. Anak jalanan juga manusia yang mempunyai rasa dan hati.  Dikejar-kejar, ditangkap, diboyong ke truk secara paksa, diinterogasi bersama-sama dengan preman, pencuri, perampok, bahkan pembunuh tanpa memikirkan bagaimana cara  hak-hak mereka bisa terpenuhi. Usaha-usaha represif haruslah dihindari dan menjadi cara terakhir dalam menertibkan anak jalanan. Cara tersebut sangat tidak baik bagi perkembangan mental anak. Pencegahan merupakan cara yang terbaik dalam mengatasi  anak jalanan. Apabila faktor-faktor yang menyebabkan mereka turun ke jalanan dapat diminimalisir maka bukan tidak mungkin pula aktifitas anak jalanan dapat berkurang.

Peran Pemerintah-masyarakat

Mengingat meningkatnya jumlah anak jalanan dari tahun ke tahun tentulah menuntut kita sebagai manusia ber-ideologi Pancasila untuk menemukan solusinya. Tentu saja solusi yang dimaksud adalah suatu solusi yang manusiawi dan baik bagi mereka bukan saja semata-mata baik bagi kita atau pemerintah!.

Namun, masalah anak jalanan ini tidak hanya menjadi tanggungjawab pemerintah dalam memberantasnya. Sebagai bagian dari realitas sosial, dukungan masyarakat juga sangat dibutuhkan disini. Peranan pranata sosial seperti keluarga, organisasi pemuda dan masyarakat, maupun LSM yang bergerak di bidang sosial sangat dibutuhkan disini. Dengan bersinerginya berbagai komponen ini, maka komunitas mereka bisa diminimalisir sehingga mereka tidak perlu lagi berpikiran untuk melakukan kegiatan ekonomi dijalanan lagi. Anak-anak ini bisa mengenyam pendidikan, memperoleh pengetahuan tentang etika dan moral yang nantinya akan melahirkan generasi yang berkualitas dan beradab.

Mahasiswa sebagai generasi muda terdidik dapat menjadi salah satu komponen yang dapat mengupayakan penghapusan fenomena anak jalanan ini. Dengan kemampuan intelektual yang telah terasah, mahasiswa dapat mengaplikasikan ilmu dan keterampilannya untuk memberikan pelatihan dan pendidikan kepada anak jalanan ini. Tidak ada alasan bagi mahasiswa untuk mengabaikan tugas ini, karena mahasiswa juga memiliki tanggungjawab sosial bagi masyarakatnya sebagaimana yang tercantum dalam salah satu point dalam Tri Dharma dari perguruan tinggi, yaitu bakti kepada masyarakat.

Menghapus stigmatisasi anak jalanan sebagai ‘orang buangan’ menjadi sangat penting. Patut disadari bahwa anak-anak jalanan adalah korban baik sebagai korban di dalam keluarga, komunitas jalanan, dan korban pembangunan. Untuk itu kampanye perlindungan terhadap anak jalanan perlu dilakukan secara terus menerus setidaknya untuk mendorong pihak-pihak di luar anak jalanan agar menghentikan aksi-aksi kekerasan dan memberi ruang pendidikan agar pepatah gantungkanlah cita-citamu setinggi langit dapat berlaku juga bagi mereka.***

Penulis adalah Guru Swasta di Medan, email: nahotsihaloho@gmail. com

Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia

Pertumbuhan Ekonomi dan Kemiskinan di Indonesia PDF Cetak E-mail
2 Maret 2011 || community.bps.go.id
Pada akhir tahun tujuh puluhan orang mengenal istilah stagflation (stagnation and inflation), di mana inflasi terjadi berbarengan dengan stagnasi. Dewasa ini Indonesia menghadapi dua kondisi yang terjadi secara simultan yang sifatnya antagonistis, yakni pertumbuhan ekonomi berlangsung serentak dan kemiskinan. Dari satu segi, kondisi makro ekonomi berada dalam keadaan yang cukup meyakinkan.

Tingkat inflasi relatif cukup terkendali pada tingkat satu digit, import-eksport berjalan cukup baik, tingkat bunga lumayan rendah dan cadangan devisa cukup tinggi untuk dapat menjamin import dalam waktu sedang, investasi cukup tinggi (angka-angkanya boleh dilihat sendiri dalam Laporan BPS, Laporan Bank Indonesia dan Nota Keuangan).

Tetapi dari segi mikro, pengangguran dan kemiskinan makin meningkat. Urbanisasi meningkat terutama dari kelompok miskin dan pengemis. Tidak hanya di Jakarta, tetapi juga disemua kota-kota besar seluruh Indonesia. Semua ini menandakan adanya kemiskinan dan sempitnya kesempatan kerja di pedesaan.

Dibandingkan dengan banyak negara lain, pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak rendah. Bahkan ketika krisis keuangan global yang menimpa hampir semua negara, sebagai akibat dari krisis kredit perumahan (prime morgate loans) di Amerika, yang bermula pada tahun 2006 sampai tahun 2009, ekonomi Indonesia tidak mengalami goncangan yang berarti.

Kemampuan untuk meredam akibat dari keuangan ini dapat terjadi berkat kebijakan makro ekonomi yang hati-hati dan tepat, di samping kondisi keterbukaan yang memangnya tidak sebesar negara-negara tetangga seperti Singapore dan Malaysia.
Kemampuan Indonesia bertahan terhadap krisis keuangan tersebut menimbulkan keyakinan rakyat pada kemampuan pemerintah SBY Periode I, sehingga dapat memenangkan Pemilihan Umum untuk Priode II. Sayangnya keberhasilan dalam bidang ekonomi pada tataran makro ini tidak mampu menekan tingkat kemiskinan yang sejak lama sudah berlangsung.

Selama masa yang panjang, sejak beberapa dekade yang lalu, di Indonesia berlangsung proses pemiskinan desa secara berkelanjutan. Dalam Era Orde Baru dikenal kebijaksanaan peningkatan ekspor non-migas. Sub-sektor industri non migas ini menjadi prioritas utama. Berbagai fasilitas diberikan kepadanya, termasuk hak untuk membayar upah buruh rendah.

Upah buruh murah ini memang telah menjadi trade mark Indonesia dalam promosi penarikan modal asing. Asumsi yang dipakai, bahwa dengan upah buruh yang murah, maka harga pokok barang-barang yang diproduksi akan murah. Dengan demikian, produk eksport Indonesia mempunyai daya saing yang tinggi. Padahal, meskipun harga pokok mempunyai korelasi dengan daya saing, karena barang dapat dijual dengan harga murah, tetapi daya saing suatu barang tidak sekadar ditentukan oleh harga (pokok), tetapi juga oleh kualitas barang, teknik marketing , politik/ diplomasi dan lain-lain.

Agar buruh (termasuk PNS) dapat hidup, maka harga bahan makanan harus dapat dipertahankan rendah. Inilah yang menjadi tugas pokok Bulog sejak waktu itu. Jika harga bahan makanan dalam negeri naik, Bulog segera harus mengimpor dari luar negeri. Rendahnya harga bahan makanan yang note bene hasil produksi petani, mengakibatkan terjadinya proses pemiskinan petani di daerah pedesaan secara berkelanjutan.

Perbedaan dua kondisi yang yang berlangsung secara terus menerus tersebut selama masa yang panjang telah mengakibatkan semakin melebarnya ketimpangan ekonomi antar penduduk di Indonesia. Hal yang perlu diindahkan adalah, jika ketimpangan pendapatan antar penduduk sudah sangat lebar, akan terdapat kecenderungan mengaburnya pertumbuhan ekonomi sebagai ukuran dari pembangunan. Artinya, setiap kita melihat adanya pertumbuhan ekonomi yang ditunjukkan oleh peningkatan pendapatan per kapita, sulit dirasakan, pada saat yang sama boleh jadi sedang berlangsung proses pemiskinan.

Sebagai contoh dari keadaan ini dapat ditunjukkan dengan angka-angka sederhana sebagai berikut:

Jika misalnya, suatu negara berpenduduk 100 juta orang, terdapat 5% penduduk dengan pendapatan rata-rata US$ 300.000 per tahun, sementara 95% lainnya berpendapatan US $ 3000 per tahun (setingkat pendapatan rata-rata Indonesia sekarang). Andaikan, jika golongan penduduk kaya yang 5% itu naik pendapatannya 10% per tahun, sementara golongan menengah ke bawah yang 95% itu mengalami penurunan pendapatan per tahun sebesar 20%, akan terjadi kenaikan pendapatan rata-rata sebesar 5,21%. Hal ini dapat ditunjukan dengan perhitungan sederhana seperti berikut.

1. Total pendaptan semula adalah:
a. 5 Juta X US$ 300.000 = US$ 1.500.000
b. 95 Juta X US$ 3.000 = US$ 285.000
Total pendaptan US$ 1.785.000

2. Kalau kemudian terjadi kenaikan pendapatan 10% dari golongan kaya (5%), dan pendaptan golongan miskin turun 20%, maka akan terlihat:

a. Total pendapatan penduduk kaya yang 5% menjadi = US$ 1.500.000 + US$ 150.000 = US$ 1.650.000
b. Total pendapatan penduduk menengah dan miskin yang 95% adalah = US$ 285.000 - US$ 57.000 = US$ 228.000.

3. Total pendapatan nasional baru adalah = US$ 1.650.000 + US$ 228.000 = US$ 1.878.000. Ini berarti telah terjadi pertumbuhan ekonomi sebesar =

US$ 1878.000 – US$ 1.785.000 = US$ 93.000 atau sama dengan (93.000 / 1.785.00) x 100% = 5,21%.

Dengan demikian dapat dipahami mengapa meskipun kita mengalami kenaikan pendapatan per kapita setiap tahun sekitar 5 - 6%, kemiskinan dalam masyarakat makin bertambah. Inilah barangkali yang dapat disebutkan sebagai growth with poverty atau bisa kita singkat sebagai groverty, atau dalam bahasa Indonesia dapat disebut sebagai pertumbuhan dengan kemiskinan atau disingkat sebagai pertumkin. Meskipun contoh tersebut memang dikemukakan secara agak menyolok, tetapi bagaimanapun, inilah yang sedang terjadi di Indonesia dewasa ini.

Akibat dari keadaan ini tidak mengherankan, kalau di satu pihak ada yang mengklaim bahwa proses pembangunan nasional berjalan mulus, ditandai dengan kenaikan pendapatan per kapita tiap tahun. Di lain pihak ada yang menuduh, pembangunan ekonomi gagal karena tidak dapat menghilangkan kemiskinan.

Singkatnya, yang menjadi masalah adalah melebarnya ketimpangan ekonomi antar penduduk dalam masyarakat, yang tidak sepenuhnya dapat ditunjukkan hanya dengan menggunakan indeks gini ratio. Untuk mengatasinya, diperlukan adanya pengamatan yang lebih seksama di lapangan dan kebijakan yang bersifat affirmatif memihak kepada golongan miskin, terutama kepada mereka yang ada di pedesaan.

*) Said Zainal Abidin adalah ahli majanemen pembangunan daerah (regional development management) dan kebijakan publik, guru besar STIA LAN. Sekarang sebagai penasihat KPK.

Sabtu, 26 Mei 2012

MASYARAKAT PEMBELAJAR

Belajar merupakan merupakan proses yang terus kita jalani dari kecil hingga saat ini.  Hal tersebut terjadi karena kita memahami bahwa di dalam proses belajar ada upaya untuk membentuk kematangan diri dan meningkatkan kecerdasan intelektual, emosi, dan spiritual. Oleh sebab itu kami meyakini kemauan belajar masyarakat Indonesia sangatlah tinggi, apabila beberapa faktor pendukung terpenuhi.  Faktor pendukung belajar tersebut di antaranya tersedianya infrastruktur dan terjangkaunya biaya untuk membeli buku-buku bermutu atau pun mengikuti training-training berkualitas yang diadakan secara umum.
Salah satu proses pembelajaran bisa kita peroleh melalui training dengan kualitas baik, yang biasanya diikuti dengan biaya tinggi.  Karena menggunakan biaya yang tidak sedikit terkadang kebutuhan akan training sering kali identik untuk perusahaan-perusahaan papan atas, sementara perusahaan-perusahaan skala menengah mengurungkan niatnya karena terkendala anggaran walaupun mereka juga sangat membutuhkan.
Peserta yang diikutkan dalam training biasanya ditentukan oleh perusahaan, contohnya minimal level staff atau Manager sehingga untuk para karyawan dibawahnya seperti security, office boy, cleaning service dan driver  terkadang perusahaan sering kali mengesampingkan dengan alasan anggaran ataupun karena mereka belum saatnya mengetahui materi seputar leadership, service, commnunication dan sebagainya.
Masyarakat Pembelajar adalah masyarakat yang mau belajar kepada siapapun, dimanapun dengan keterbatasan yang dimiliki. Tidak peduli perusahaan besar atau kecil, karyawan level atas ataupun bawah, semua membutuhkan proses belajar untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan individu di masa depan. Tentunya individu yang berkembang dan maju akan mendongkrak kinerja perusahaan di mana dia bekerja.
Oleh karena itu, Masyarakat Pembelajar hadir untuk membantu memberikan pelatihan-pelatihan yang berkualitas kepada seluruh lapisan masyarakat, organisasi maupun perusahaan yang sangat membutuhkan, dengan biaya yang sangat minim.
Harapan kami apabila boleh meminjam tagline dari suatu perusahaan penerbangan “Now Everyone can Fly”, maka kami akan menggunakan “Now Everyone can learn” kita berusaha akan menjadikan “Best – Low Cost Training”.

HUBUNGAN ANTARA INDIVIDU, KELUARGA, DAN MASYARAKAT

bila ada yang bertanya.. Negara,bangsa,masyarakat,individu.apakah hubungannya?

hohohohoh hubungannya jelas sekali terlihat sebuah negara harus memiliki masyrakat, individu, dan bangsa..
1. masyarakat, negara pastinya memiliki masyarakat meskipun berbeda-beda suku, ras, dan agama
2. individu, meskipun individu adalah bagian terkecil dari masyarakat tapi individu juga adalah warga negara yang mempunyai hak sebagai warga negara...
3. Bangsa adalah suatu kelompok manusia yang dianggap memiliki identitas bersama, dan mempunyai kesamaan bahasa, agama, ideologi, budaya, dan/atau sejarah. Pada dasarnya, setiap individu memiliki ciri-ciri yang berbeda. Individu yang saling bergabung akan membentuk kelompok atau masyarakat. Individu tersebut akan memiliki karakteristik yang sama dengan kelompok dimana dirinya bergabung di dalam suatu negara.



Manusia adalah sebagai makhluk individu dalam arti tidak dapat di pisahkan antara jiwa dan raganya, oleh karena itu dalam proses perkembangannya perlu keterpaduan antara perkembangan jasmani maupun rohaninya.

Sebagai makhluk sosial seorang individu tidak dapat berdiri sendiri, saling membutuhkan antara yang satu dengan yang lainnya, dan saling mengadakan hubungan sosial di tengah–tengah masyarakat.

Keluarga dengan berbagai fungsi yang dijalankan adalah sebagai wahana dimana seorang individu mengalami proses sosialisasi yang pertama kali, sangat penting artinya dalam mengarahkan terbentuknya individu menjadi seorang yang berpribadi.

Sebagai bagian yang tak terpisahkan dengan masyarakat, keluarga mempunyai korelasi fungsional dengan masyarakat tertentu, oleh karena itu dalam proses pengembangan individu menjadi seorang yang berpribadi hendaknya diarahkan sesuai dengan struktur masyarakat yang ada, sehingga seorang individu menjadi seorang yang dewasa dalam arti mampu mengendalikan diri dan melakukan hubungan – hubungan sosial di dalam masyarakat yang cukup majemuk.

Masyarakat adalah kelompok manusia yang saling berinteraksi yang memiliki prasarana untuk kegiatan tersebut dan adanya saling keterikatan untuk mencapai tujuan bersama. Masyarakat adalah tempat kita bisa melihat dengan jelas proyeksi individu sebagai bagian keluarga, keluarga sebagai tempat terprosesnya, dan masyarakat adalah tempat kita melihat hasil dari proyeksi tersebut.

Individu yang berada dalam masyarakat tertentu berarti ia berada pada suatu konteks budaya tertentu. Pada tahap inilah arti keunikan individu itu menjadi jelas dan bermakna, artinya akan dengan mudah dirumuskan gejala – gejalanya. Karena di sini akan terlibat individu sebagai perwujudan dirinya sendiri dan merupakan makhluk sosial sebagai perwujudan anggota kelompok atau anggota masyarakat.
[Mukhlish muchad Fuadi: 3rd Semester 2007]

sumber
http://muchad.com/hubungan-antara-individu-keluarga-dan-masyarakat.html

Selasa, 22 Mei 2012

Akibat Kenakalan Remaja

Dampak Kenakalan Remaja. Saat ini, hampir tidak terhitung berapa jumlah remaja yang melakukan hal-hal negatif. Bahkan, Dampak kenakalan remaja tersebut, banyak sekali kerugian yang terjadi, baik bagi remaja itu sendiri maupun orang-orang di sekitar mereka. Remaja adalah seorang anak yang bisa dibilang berada pada usia tanggung, mereka bukanlah anak kecil yang tidak mengerti apa-apa, tapi juga bukan orang dewasa yang bisa dengan mudah akan membedakan hal mana yang baik dan mana yang berakibat buruk. 
Sebelum mengetahui apa saja dampak kenakalan remaja, kita perlu tahu tentang kenakalan apa saja yang mungkin dilakukan oleh remaja. Sebuah kenakalan tentu tidak bisa didata satu persatu, namun bisa dirangkum seperti penjelasan di bawah ini.

Dampak kenakalan remaja:

  • Kenakalan dalam keluarga: Remaja yang labil umumnya rawan sekali melakukan hal-hal yang negatif, di sinilah peran orang tua. Orang tua harus mengontrol dan mengawasi putra-putri mereka dengan melarang hal-hal tertentu.Namun, bagi sebagian anak remaja, larangan-larangan tersebut malah dianggap hal yang buruk dan mengekang mereka. Akibatnya, mereka akan memberontak dengan banyak cara. Tidak menghormati, berbicara kasar pada orang tua, atau mengabaikan perkataan orang tua adalah contoh kenakalan remaja dalam keluarga.
  • Kenakalan dalam pergaulan: Dampak kenakalan remaja yang paling nampak adalah dalam hal pergaulan. Sampai saat ini, masih banyak para remaja yang terjebak dalam pergaulan yang tidak baik. Mulai dari pemakaian obat-obatan terlarang sampai seks bebas.Menyeret remaja pada sebuah pergaulan buruk memang relatif mudah, dimana remaja sangat mudah dipengaruhi oleh hal-hal negatif yang menawarkan kenyamanan semu. Akibat pergaulan bebas inilah remaja, bahkan keluarganya, harus menanggung beban yang cukup berat.
  • Kenakalan dalam pendidikan: Kenakalan dalam bidang pendidikan memang sudah umum terjadi, namun tidak semua remaja yang nakal dalam hal pendidikan akan menjadi sosok yang berkepribadian buruk, karena mereka masih cukup mudah untuk diarahkan pada hal yang benar. Kenakalan dalam hal pendidikan misalnya, membolos sekolah, tidak mau mendengarkan guru, tidur dalam kelas, dll.

Dampak Kenakalan Remaja

  • Dampak kenakalan remaja pasti akan berimbas pada remaja tersebut. Bila tidak segera ditangani, ia akan tumbuh menjadi sosok yang bekepribadian buruk.
  • Remaja yang melakukan kenakalan-kenakalan tertentu pastinya akan dihindari atau malah dikucilkan oleh banyak orang. Remaja tersebut hanya akan dianggap sebagai pengganggu dan orang yang tidak berguna.
  • Akibat dari dikucilkannya ia dari pergaulan sekitar, remaja tersebut bisa mengalami gangguan kejiwaan. Yang dimaksud gangguan kejiwaan bukan berarti gila, tapi ia akan merasa terkucilkan dalam hal sosialisai, merasa sangat sedih, atau malah akan membenci orang-orang sekitarnya.
  • Dampak kenakalan remaja yang terjadi, tak sedikit keluarga yang harus menanggung malu. Hal ini tentu sangat merugikan, dan biasanya anak remaja yang sudah terjebak kenakalan remaja tidak akan menyadari tentang beban keluarganya.
  • Masa depan yang suram dan tidak menentu bisa menunggu para remaja yang melakukan kenakalan. Bayangkan bila ada seorang remaja yang kemudian terpengaruh pergaulan bebas, hampir bisa dipastikan dia tidak akan memiliki masa depan cerah. Hidupnya akan hancur perlahan dan tidak sempat memperbaikinya.
  • Kriminalitas bisa menjadi salah satu dampak kenakalan. Remaja yang terjebak hal-hal negatif bukan tidak mungkin akan memiliki keberanian untuk melakukan tindak kriminal. Mencuri demi uang atau merampok untuk mendapatkan barang berharga.

Selasa, 24 April 2012

6 Kesalahan Orangtua Saat Mengajari Anak Tidur Tepat Waktu

img
Dok. Thinkstock
Jakarta - Kelakuan si kecil memang sangat menggemaskan dan menyenangkan. Aktivitasnya sehari-hari benar-benar mewarnai kehidupan keluarga Anda. Namun, jangan sampai kegiatan balita membuat dia terlalu lelah dan jatuh sakit. Sebagai orangtua, Anda perlu mendisiplin anak agar tidur sesuai tepat waktu.

Para ahli mengatakan bahwa kesalahan umum orangtua saat menyuruh anaknya pergi tidur bisa berdampak besar kepada si kecil. Dia akan sulit tidur malam dan malah kekurangan waktu istirahatnya. Tentu hal ini akan mengganggu kesehatan. Simaklah enam kesalahan orangtua ketika menyuruh si buah hati tidur dan cara mengatasinya dikutip dari Baby Center.

1. Terlambat Mengajak Anak Pergi Tidur
Anak yang sudah sekolah, waktu tidurnya berkurang sekitar 60 menit daripada anak yang belum masuk sekolah. "Anak-anak mengalami kesulitan memejamkan dan mengistirahatkan tubuh pada waktu siang maupun malam hari," tutur Marc Weissbluth, seorang dokter anak dan penulis dari Healthy Sleep Habits, Happy Child.

Mungkin kesibukan Anda bekerja yang menyebabkan jadwal tidur anak tidak teratur. Kegiatan anak di sekolah ataupun di rumah juga menjadi faktor anak sulit tidur. "Membiarkan anak tidur terlambat akan membuat anak menjadi orang yang lemah atau selalu terlihat kelelahan," ujar Jill Spivack, seorang pekerja sosial dan co-creator dari The Sleepeasy Solution: The Exhausted Parent's Guide to Getting Your Child to Sleep from Birth to Age 5. Maka dari itu, jangan mendiamkan hal itu terus berkelanjutan.

Solusi: Buat jadwal tidur malam anak yang teratur. Bahkan, jika bisa ditambah tidur siang. Jangan menunggu anak menguap, mengusap mata, hingga merengek, baru Anda mengajaknya pergi tidur. Mungkin lebih baik menambah 15-20 menit waktu tidur si buah hati.

Setiap anak berbeda-beda. National Sleep Foundation mengatakan bahwa balita biasanya membutuhkan 12 jam waktu tidur pada malam hari. Sedangkan anak-anak pra-sekolah butuh sampai 13 jam istirahat pada malam ditambah siang hari. Anak-anak yang sudah beranjak remaja wajib mengistirahatkan tubuh 10 sampai 11 jam per hari. Cari informasi supaya anak selalu konsekuen dengan aturan yang telah dibuat.

2. Mengandalkan 'Gerakan' Saat Menidurkan Anak
Banyak orangtua yang memakai 'gerakan' supaya si kecil cepat terlelap. Namun, hal ini tidak baik kalau dilakukan terlalu sering. Misalnya, orangtua menggendong anaknya hingga tertidur pulas atau mengandalkan kain gendongan supaya balita segera memejamkan mata. "Jika anak-anak dibiasakan tidur dalam 'gerakan', dia mungkin tidak mendapatkan tidur yang nyenyak," papar Weissbluth.

Solusi: Sebenarnya, tidak apa-apa menggendong anak saat rewel atau menciptakan gerakan lain sebelum anak tertidur, tapi alangkah baiknya jika anak yang tidur karena gerakan, cepat dipindahkan ke tempat tidur. Anda juga bisa menyiasatinya dengan menceritakan dongeng atau mengajaknya menghitung supaya anak segera terlelap.

3. Jangan Meletakan Banyak Mainan di Tempat Tidur Anak
Kebanyakan orangtua menempatkan mainan si buah hati di boks tidurnya. Mereka ingin supaya si kecil tidak merengek ketika ibu sedang bekerja. Bahkan, Anda memberikan hiasan lampu warna-warni supaya anak betah di atas bosk mereka. Akan tetapi, semua itu bisa membuat anak kurang tidur.

Solusi: Untuk memaksimalkan tidur anak Anda, gelapkan kamar supaya otak juga beristirahat. Kamar yang gelap akan membuat tidur lebih nyenyak daripada kamar yang penuh cahaya. Jika si kecil takut menghadapi kamar gelap, ajari berhitung 1 sampai 10, lalu matikan lampu pada hitungan ke-10. Hindari juga barang-barang elektronik, seperti televisi, DVD, atau komputer yang bisa mengurangi jam tidur si balita. Biarkan anak terlelap dalam keadaan yang sunyi dan tambahkan pendingin ruangan agar dia semakin pulas.

4. Melewati Rutinitas Sebelum Tidur
Banyak orang tua hanya menyuruh balita istirahat, tapi melewati rutinitas yang dilakukan sebelum tidur. Anda mungkin berpikir belum saatnya balita menggosok gigi atau membaca buku. Namun, jangan sepelkan hal tersebut. "Sangat penting memiliki berbagai cara untuk membuat anak tahu kapan dia harus pergi tidur," ujar Judith Owens, seorang direktur klinik gangguan tidur anak di Hasbro Children's Hospital di Providence, Rhode Island.

Solusi: Buat panggilan isyarat supaya si kecil mengerti bahwa dia harus tidur. Misalnya, Anda menyetel alarm pada jam weker dengan suara yang khas di dalam kamar. Dengan begitu, anak akan merasa terpanggil dan segera meninggalkan aktivitasnya. Anda juga bisa menceritakan beberapa dongeng dari buku anak pada waktu yang sama setiap harinya sehingga anak terbiasa tidur tepat waktu.

5. Tidak Konsisten
Kebanyakan orangtua tidak konsisten dengan aturan mereka. Terkadang, karena Anda dan si kecil terlalu banyak kegiatan, jadwal tidur anak menjadi berantakan. Orangtua juga membiarkan anak selalu tidur bukan di tempat tidur mereka. Padahal anak bisa menjadi manja dan tidak bisa tidur kalau tidak ada Anda yang menemaninya.

Solusi: Taati peraturan dan jadwal tidur yang sudah Anda buat. Misalnya, ketika anak sedang ngambek dan meminta tidur dengan Anda, berikan persyaratan. Jangan uruti permintaan si kecil terlalu sering. Sedikit memberikan ketegasan bagus buat anak disiplin mematuhi aturan Anda.

6. Terlalu Cepat Membuatkan Anak Kamar Sendiri
Ada beberapa orangtua yang sudah menyiapkan kamar sendiri untuk bayi mereka sejak masih dalam kandungan. Anak yang masih terlalu dini suka sulit tidur kalau tidak ada orangtua di dalam kamarnya. Namun, orangtua lebih mendahulukan keinginan mereka agar anak tidur di kamar sendiri.

Solusi: Tunggu hingga anak siap tidur di dalam ruangan yang berbeda kamar dengan Anda. Mungkin untuk anak 3 tahun masih memerlukan orangtua di samping mereka saat pergi tidur. Pelan-pelan mengenalkan si kecil pada kamar baru mereka. Akan tetapi, jangan langsung memaksanya supaya tidur terpisah dari Anda. Ada saatnya anak Anda meminta tidur sendiri ketika memasuki lingkungan sekolah.

(eny/eny)

Redaksi: redaksi[at]wolipop.com
Informasi pemasangan iklan
hubungi :
  • email : sales[at]detik.com

"Anak Kaki Gunung", Ajarkan Budi Pekerti

JAKARTA, (PRLM).- setelah sukses dengan serial “Laskar Pelangi the Series” dan “Garuda Impian”, SCTV kembali menayangkan serial istimewa “Anak Kaki Gunung” mulai 26 Januari 2012. Serial ini rencananya akan ditayangkan 15 episode dan akan dibintangi oleh empat tokoh pemeran anak Ananda Putri, M. Fahri, M. Fidzi Lalil Rahim, dan Tissa Biani Azahra. Selain itu ada dukungan sejumlah artis senior antara lain Deddy Mizwar, Dewi Irawan, Aty Cancer, Edi Riwanto, Dorman Borisman, Ade Irawan, Afrizal Anoda, Rahman Jacob, dan Denaya.

Menurut Direktur Program dan Produksi SCTV, Harsiwi Achmad, serial istimewa ”Anak Kaki Gunung” dikemas dalam cerita penuh kelucuan, kegembiraan dan keharuan. Pesan moral yang ingin disampaikan adalah pembelajaran budi pekerti yang dibawakan tanpa kesan menggurui. “Selain itu, potret keluarga bahagia serta kisah persahabatan yang indah juga merupakan nilai budi pekerti lainnya yang diharapkan dapat menjadi tontonan yang menarik serta mendidik bagi anak-anak,” tambah Harsiwi.

Serial istimewa “Anak Kaki Gunung” diangkat dari novel ‘Anak-Anak Mamak’ karya Tere Liye dan diproduksi oleh PT  Demi Gisela Citra Sinema bekerja sama dengan Sandiego dengan sutradara Kiki ZKR yang juga merupakan sutradara sinetron ‘Para Pencari Tuhan’. Skenario serial ini ditulis Misbach Yusa Biran, Ida Farida, Arief Gustaman, Firman Triyadi, dan Al Kadri Johan.

Serial Istimewa “Anak Kaki Gunung’ menceritakan tentang kehidupan Eliana (Ananda Putri), Pukat (M.Fahri), Burhan (Fidzi Lalil Rahim) dan Amelia (Tissa Biani Azahra) yang merupakan anak-anak dari pasangan suami istri sederhana Pak Syahdan (Edi Riwanto) dan Mak Nur (Dewi Irawan) . Keluarga ini tinggal di sebuah kampung di kaki gunung Singgalang, Sumatera Barat, jauh dari perkotaan. Hanya ada satu Sekolah Dasar yang rusak bangunannya, dan hanya ada seorang guru yang mengajar, yakni Pak Taufik (Dorman Borisman), guru honorer selama 15 tahun. Murid setiap kelas tidak lebih dari delapan orang. Eliana, Pukat, Burhan, dan Amelia, bersama teman-temannya, setiap malam juga mengaji pada Nek Kiba (Aty Cancer), satu-satunya guru mengaji di kampung itu.

Dalam 15 episode, akan diceritakan tentang kehidupan Anak Kaki Gunung, anak-anak yang peka terhadap alam dan makhluknya, yang selalu dapat mengatasi berbagai masalah---- dengan kearifan sebagaimana yang diajarkan oleh orang tua dan guru-gurunya. (Mun/A-147)***

Be Green, For Clean

Think Globally, Act Locally
Teman2,
Mungkin pastinya pernah anda baca, dengar & ketahui apa itu Go Green'
Jadi Please...,1x lagi teman2 semua,
dengan ajakan ini, kiranya dapat men'support & men'sukseskan ajakan untuk Hidup Lebih HIJAU, Lebih BERSIH & STOP Global Warming".
Dengan kesadaran yang tinggi kita sebagai Anak Bangsa yang masih memiliki Rasa & Jiwa Patriotisme sebagai generasi penerus bangsa untuk bersama2 menjadi; Pahlawan Tanpa Tanda Jasa' untuk Berbakti dalam Misi menyelamatkan Bumi Tercinta Ibu Pertiwi dan Anak Cucu kita dengan Go Green INDONESIA KU'
Ayo..Teman semua, terus suarakan Misi Go Green INDONESIA KU'
Bumi & Anak Cucu kita membutuhkan kita semua untuk :
*Be Green >> Tanam 1 Pohon.
*For Clean >> Buang Sampah Jangan Sembarangan' & Pisahkan Sampah Organik & Non Organik.
Dengan melakukan tindakan nyata' :
TANAM 1 POHON " untuk SEUMUR HIDUP ANDA = 1 Bakti untuk Bumi Indonesia Ibu Pertiwi + 1 Bukti Cinta pada Anak Cucu.
Jangan Tunda, Sampe Lupa".
Mohon untuk teman2 sebagai Pemerhati, Relawan, Aktivis dan Pecinta Lingkungan untuk dapat kiranya Sharing', baik berupa Berita, Opini, Foto2 & Informasi tentang Lingkungan.
Ayo...terus suarakan, Go Green INDONESIA KU'
Untuk Membuat Indonesia Lebih Hijau & Bersih.
Tks B4.
JHM Team

 http://gogreenindonesiaku.com/